Tampilkan postingan dengan label Aceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aceh. Tampilkan semua postingan

Pesona Pulau - Pulau Aceh

Hari minggu kemaren ane diajak ama temen buat mancing kelaut, pertamanya sih nolak tapi akhirnya setuju juga gara2 G tw mw ngapain pas lagi libur,, hehehe.

Peace Dulu gan :



Dan ternyata baru ane tw kLo dilaut itu kapalnya engga pernah berhenti goyang2, untung aja ane engga mabok apalagi muntah2 cuman pusing2 doank..

To the point aja gan ane mau ngasih oleh2 buat agan2 nih. pemandangan yg ane jepret pke HP pas ane ksana.. :)

Tumpangan ane ama tmen2 :

Lagi bersandar nunggu ditunggangin.. :D kaya kuda aja














Nih gan yg paling ane suka.. SUNSET ^_^

Nih ane foto pake Nokia E90 gara2 hp samsung ane lowbat.. T.T




Mancing dulu ah gan :D hehe


Hasil tangkepan





















Read More

Waduk Keliling Indrapuri , Cantiknya Serasa di Luar Negeri

G sengaja tadi pas baca detik nemu lokasi tempat wisata menarik..
dan setelah nyari2 info tuh tempat emank keren dah..
ini sedikit reviewnya..

Waduk keliling Indrapuri (Setelah pemekaran Kecamatan Indrapuri, waduk ini masuk wilayah administrasi Kecamatan Cot Glie) berjarak 35 km dari pusat kota Banda Aceh ke arah Medan, sampai saat ini merupakan waduk terbesar di provinsi Aceh. Waduk tersebut mampu menampung kurang lebih17 juta m3 dengan luas genangan 228 Ha dan cacthment area seluas 38,20 Km². 

Meski berfungsi untuk menyimpan air, Waduk Keuliling di Banda Aceh juga asyik untuk dikunjungi. Jika datang saat langit cerah, Anda akan disuguhkan dengan pemandangan alam sekitar yang sangat cantik, serasa di luar negeri. Keren!

Selain berfungsi sebagai irigasi, bendungan ini juga menjadi tempat wisata yang wajib dikunjungi. Jika datang ketika langit cerah, Anda akan disuguhkan dengan pemandangan alam yang menakjubkan. Cocok untuk pecinta fotografi.


nih ane kasi prikitiewnya:
Klo agan pengen ksana hubungi ane aja gan..
ane tau kok tempatnya..

Source : DetikTravel

Read More

ACEH : The Absurd Mysticism Society


          Insya Allah, barangkali tidak salah, jika dikatakan bahwa masyarakat Aceh adalah masyarakat yang memiliki karakter budaya yang cenderung menempati titik-titik ekstrim, fanatik, unik dan sekaligus anti teori. Banyak logika teoritis dan rasionalitas ilmu-ilmu pengetahuan sosial yang tidak segera compatible dengan karakter sosiologis masyarakat Aceh yang unik itu. Sehingga muncullah semacam kesulitan metodologis bagi para peneliti dalam membedah, menganalisa, dan lantas mampu mengkonstruksi suatu pemahaman yang baik, jelas dan utuh tentang tentang struktur kesadaran psikologis masyarakat Aceh.

          Marilah kita coba memahami masyarakat Aceh melalui pendekatan bedahstrukturalis- nya Claude Levi Strauss (lihat Ino Rossi, eds., The Unconscious in Culture, 1974). Pendekatan ini telah sukses diaplikasikan untuk membongkar dan memahami struktur-struktur indah, yang terdapat dibalik kerancuan tata-pikir dan tata-kesadaran masyarakat primitif Indian di Amerika Selatan. Kesadaran sosiologis mereka, masih sangat dipengaruhi berbagai mitologi, legenda dan tentu saja banyak terdapat anomaly (aneh) dan absurdity (ganjil) yang menarik untuk dipelajari (Armahedi Mahzar, Rekonstruksi Filsafat Islam, 1983 : 2).

          Dalam mistis yang unik, dan bersifat retorikmitologisatau romantik-historis, spirit mistis orang Aceh terbaca pada semboyan "Udep Saree, Mate Syahid" yang tentu mengandung semangat hidup atau mati bersama yang egaliter dan bernuansa mitologis-sakral. Semboyan ini mendorong setiap orang Aceh siap tampil menjadi martir dalam mempertahankan, membela, menjaga dan membebaskan struktur egalitarianisme masyarakatnya, dari penindasan, penghinaan dan penjajahan struktural yang datang dari pihak manapun.

          Pada sisi yang lain, masyarakat Aceh secara struktural juga tersusun atas kesadarankesadaran fenomenal formalis dalam bangun piramida feudalisme-aristokratis, yang niscaya merindukan suasana glamorous (kehidupan mewah bergengsi). Implikasinya, setiap strata sosial yang dibangun di atas mitos feudalisme itu yang secara awami menempatkan kesadaran bahwa unsur material sebagai sumber gengsi sosial dan kemuliaan yang sakral. Kesadaran ini tampak pada pertimbangan kuantitas atas anggapan tradisional masyarakat Aceh bahwa, semakin mahal mas kawin, semakin banyak tanah yang dikuasai, semakin sering frekuensi naik haji, maka seseorang semakin merasa mulia dan dimuliakan.

          Dampak negatif dari pencapaian kemuliaanmaterialistis semacam itu, muncullah sikap primitif berupa prilaku subordinatif yang "nge-boss" atau "nge-raja" terhadap para bawahannya, segera setelah ia punya harta dan kekuasaan. Di sini tampak, ada struktur kesadaran ekonomi-politik dan kekuasaan yang kental mengendap dalam benak dan dalam setiap aktifitas kehidupan masyarakat Aceh. Sikap feudalistic-ekonomis dan kekuasaan seperti ini dapat saja diidapi oleh para awam sampai seorang ulama sekalipun, ketika mereka memiliki harta dan kuasa.

          Di seberang realitas kesadaran struktural ekonomi-politik itu, masyarakat Aceh juga merupakan masyarakat yang tergolong antistruktur. Karena, ada semangat egalitarianisme yang tinggi, baik secara laten maupun manifest. Ini bersemayam dalam karakter budaya keacehan, yang satu individu dengan lainnya cenderung saling menganggap sederajat. Sehingga, seorang bibit Aceh sangat responsif dan reaktif kepada setiap tindakan pelecehan atau penghinaan, dari siapapun datangnya.

          Jadi tampaklah, bahwa ada dua karakter keacehan yang berseberangan secara diametral, yakni antara struktur abstrak tentang adanya piramida kekuasaan feudalistik yang berorientasi material dengan struktur konkrit kesadaran egalitarianisme yang berorientasi immaterial, yakni berupa gengsi dan harga diri, yang siap mati untuk membelanya.

          Dari sini muncullah karakter budaya "manok agam" (ayam jantan) dalam khasanah kelakuan keseharian masyarakat Aceh. Implikasinya, karakter politik orang Aceh adalah sama seperti karakter “ayam jantan” yang siap berlaga jika ada dua ekor “pejantan” dalam satu kandang. Akibat historisnya, masyarakat Aceh selalu cenderung untuk bersaing dan menjegal antar sesama, jika kedua “ayam-jago” tersebut ada dalam satu “kandang” kekuasaan. Dan, perseteruan pun akan semakin sengit, jika ada lebih dari dua “ayam-jago” dalam satu kandang (kantor), yang akan sangat sulit untuk diselesaikan. Karena keduanya bertahan dalam gengsinya masing-masing, dimana dimensi ilmu dan kebenaran tidak lagi menjadi tolok-ukur tentang siapa yang seharusnya mengalah.

          Jika realitas sosiologis di atas kita hubungkan dengan konteks ajaran Islam, dimana Aceh dikenal cukup fanatik, maka terlihat Islam baru ditempatkan pada posisi yan marginal dan simbolik. Sehingga, nilai egalitarianisme Islam baru mampu dihayati sebatas menanamkan perasaan sederajat pada dirinya sendiri dan dalam relasi sosialnya dengan siapapun secara terbatas. Semangat persamaan derajat ini terkadang cenderung merubuhkan struktur dan penghormatan atas relasi struktur piramidal itu sendiri.

          Aneh dan uniknya adalah, jiwa-jiwa lamiet penghambaan sekaligus jiwa-jiwa besar perlawanan terhadap struktur aristokrat-feudalis dapat dimiliki sekaligus oleh satu entitas pribadi yang sama. Di sini terlihat, ada kekacauan struktur sosial dalam watak egalitarianisme masyarakat Aceh, yang muncul sebagai pribadi yang siap menghamba dan siap pula memberontak. Ia dapat sangat menghamba pada atasannya jika kebutuhan materialistisnya dapat terpenuhi dengan lancar. Namun ia pun bisa segera memberontak kepada atasannya, jika terjadi tindak atau sikap menghina, menjajah dan menindas.

          Sementara egalitarianisme Islam adalah lebih bersifat substansial dan tidak bermaksud membangun masyarakat tanpa struktur (kelas). Karena struktur dalam konteks sosiologis adalah sunnatullah. Ini tersusun, dikelola dan dijaga lewat upaya pengayoman, pemamongan dan penghormatan, terhadap lapis dan derajat struktural dari struktur hirarki piramida sosial kemasyarakatan, yang didasarkan pada mobilitas vertikal derajat keilmuan dan keshalehan.

          Di seberang fenomena egalitarianisme Aceh yang anti-struktur dan berkarakter “ayam-jago” itu, ada efek negatif terhadap sisi psycho-politis masyarakat Aceh. Yakni, setiap orang yang menempati lapisan elite, ia selalu cenderung punya gengsi dan kebanggan berlebihan pada kedudukannya. Sehingga yang bersangkutan sangat sulit untuk rela menerima dan menghargai kritik atau sekedar perbedaan pendapat sekalipun. Maka, adanya kritik dan perbedaan pendapat di kalangan orang Aceh, seringfkali dipahami sebagai hadirnya “lawan” atau bahkan “musuh” yang cepat atau lambat harus dikalahkan.

          Akibat lanjutannya, karakter kesabaran religiositas keislaman orang Aceh, nyaris tak mencakup konsep-konsep dan terma-terma “sabar”, “taubat” atau “maaf”. Karena memang, ada semacam tingkat kesulitan tertentu yang selalu membuat dirinya tidak mampu untuk merasa bersalah, dan perlu segera ditaubati. Sulit pula memberi dan meminta maaf karena memang mereka punya semacam keangkuhan “manokagam”. Ke-maaf-an hanya akan diberikan, jika seseorang bisa menghamba lewat prosedur aristokrasifeudalistik. Inilah wilayah-wilayah “ s e n t u h a n - h a t i ” yang seringkali disarankan orangorang untuk disentuh jika ingin rakyat Aceh tidak lagi memberontak.

          Lantas, oleh karena karakter religiositas yang taqlidi, simbolis dan cenderung bersikap menutup diri, maka terbataslah informasi dan insight yang justru menyebabkan keangkuhan yang tidak beralasan. Maka wajar bila kemudian mereka menjadi grasagrusu, tidak sabaran atau tergesa-gesa dalam berusaha mewujudkan cita-cita aristokratikfeudalistiknya. Uniknya, berbagai karakter masyarakat seperti itu, tampak banyak diperankan hanya antar sesama orang Aceh.

          Terhadap orang luar, orang Aceh menghadapinya dengan tiga alternatif sikap, tergantung bagaimana seseorang mengapproach- nya. Yakni: pertama sikap ramah layaknya menerima dan memuliakan tamu, jika anda berkenan menggunakan pendekatan aristokratis. Kedua, sikap cuek, ngedumel, dan angkuh tanpa kompromi, jika ia berhadapan dengan keangkuhan orang lain. Dan ketiga, sikap inferior, namun tulus, tunduk, menghamba dan setia, jika ia berhadapan dengan sikap-sikap keilmuan yang penuh kearifan. Ini bisa terjadi jika mereka merasa dirinya masih sangat terbatas dalam banyak hal dibanding orang-luar yang dipandang berilmu dan arif tersebut, walau kesimpulan keberilmuan seseorang itu juga belum tentu benar prediksinya. Karena banyak juga orang yang terlihat arif dan santun, tapi ternyata hanya suatu kemunafikan untuk kepentingan kelancaran eksploitasi belaka.

          Pada karakter asli (genuine) Aceh, yakni sebelum dipola oleh sistem orba, kita barangkali masih sangat kesulitan menemukan orang Aceh yang munafik. Karena orang Aceh lebih senang blakblakan (pakiban crah, meunan beukah, sebagaimana retak, begitulah pecahnya). Namun, sifat ini seringkali malah menjadi sesuatu yang kontra-produktif bagi dirinya sendiri, khususnya pada zaman orba yang kemunafikan disebarkan secara nasional, dan sekaligus mengancam orangorang yang berkata benar dan terus terang.

          Akhirnya, dalam pandangan saya, masyarakat Aceh sesungguhnya adalah masyarakat yang saya sebut sebagai : “The Absurd Mysticism Society“ yakni masyarakat yang menyimpan banyak misteri, anomali, irrasionalitas, absurditas (keganjilan) dan kecenderungan kepada kehidupan yang lebih bernuansa spekulatif, untung –untungan, nasibnasiban, namun uniknya, selalu masih punya harapan agar Tuhan akan berpihak padanya. Harapan kepada Tuhan itu tampak hanya percikan keinginan yang imaginatif dan bersifat mistis, karena sebenarnya mereka memang enggan berdo’a kepada-Nya secara ikhlas, khusus, khusyu, dan intens.

          Mengakhiri renungan kritis ini, ada ilustrasi menarik menyangkut orang Aceh. Yakni, kenapa banyak orang Aceh, baik muda ataupun tua, yang lebih senang “main domino” (batu) ketimbang main-catur. Karena, memang mainnya lebih mudah, banyak sisi spekulatifnya dan tak butuh strategi tertentu untuk mengalahkan lawan, kecuali kenekadan. Disamping itu, dalam permainan domino ini besar peluang dakwa-dakwinya. Maka jarang setelah main domino bisa kembali terjalin keakraban.

          Makanya, orang Aceh sangat tidak suka main catur, karena tentu lebih sulit memainkannya, perlu ngulik berfikir keras untuk membangun strategi, dan perlu pula kesabaran tinggi, agar lawan secara “cantik” dapat ditundukkan. Sehingga kemudian, diakhir permainan, kedua belah pihak siap ber-salam-an.

          Inilah Aceh yang sesungguhnya sangat memiliki potensi kecerdasan multi-etnik, karena memang, ia secara geneologis adalah berasal dari percampuran berbagai etnik besar (Arab, Cina, Eropah, Hindi). Namun sejauh ini, sentuhan pendidikan yang dialaminya masih sama sekali belum berperan mematangkan keunikan, kemistikan, kepahlawanannya (heroisme) yang tergolong maniak itu. Jika pendidikan mampu berperan untuk itu, orang Aceh akan mampu mencapai suatu derajat kearifan perennialisme dari sumber kebesaran dan keunikan tradisinya yang unik.

          Kiranya, ada ruang uji-sosial melalui pendekatan ethno-struktural metodologis yang akan menjadi lahan menarik, dalam upaya menemukan solusi arif dan tuntas atas konflik vertical Aceh-pusat, untuk menuju kehidupan yang cerdas, santun, bermartabat dan penuh akan cinta kedamaian.

Wallahu ‘alam bish-shawab…

Read More

ALMANAK ACHEH



       Sistem almanak Acheh geupeuget le indatu ureng Acheh ngon basis Islam. Basis uro jih pih lagee lam sistem Islam, meunurot buleuen, sampo lam basa Acheh takheuen sistem uro lam almanak nyan urobuleuen. Teuma watee ka keunong peungaroh basa Indoneusia (basa Keulayu, kon Meulayu), kata urobuleuen nyo meuganto jeuet keue tanggai. Teuma lam basa Malaysia, kata Meulayu nyo mantong lagee asai, haribulan. Jeuet le indatu ureung Acheh uro jeh geukheuen urobuleuen nakeuh mongken sabab dasar sistem almanak jih bak perubahan bentuk buleuen (basa ‘Arab: manzilat), dari bentuk sadeuep keue bulat keue meu-ulang bak bentuk sadeup teuma.

       Lam sistem almanak Acheh nyo, lagee lam almanak Islam (almanak Hijrah), phon uro nibak watee Mugreb, watee ilop matauro. Nyan keuh sabab jih geutanyo takheuen, miseue, malam Jeumeu’at, kon Hameh malam, sabab bak malam nyan ka jitamong Jeumeu’at. Singoh uro jih uro Jeumeu’at. Akhee malam bak watee Suboh, watee leumah fajar keudua i timu. Siat sigohlom watee suboh, (watee saho lam buleuen Puasa), mantong teukira malam, dan uro jih mantong takheuen “singoh”.

       Urobuleuen sa nakeueh watee buleuen baro, siat lheueh matauro ilop blah barat, bak horizon barat bacut i wateuh ufuq deueh buleuen, biasa rayekjih ubee “daqiq”, yakni kira-kira ubee ginong jaro. Jameuen dilee ramee ureung Acheh nyan jeuet geubileueng urobuleuen (geuhisab), saboh ‘eleumee nyan lawet nyo ka hana kayem le tateumee bak ureung Acheh. Imeum Meunasah ngon Teungku Dayah (Teungku Rayek) umumjih meuphom cara bileueng urobuleuen nyo. Teuma lam hukom Islam, ngon bileueng (hisab) mantong hana sep, peureulee jak kalon buleuen (ru’yah). Adat jak kalon buleuen nyo umumjih na watee bak awai buleuen Puasa ngon akhee buleuen Puasa, keumeung tamong buleuen Uro Raya. Teungku Rayek biasajih nyan mat narit putoh (Meulayu: keputusan) lam bhah Puasa ngon Uro Raya nyo.

       Bak nan-nan buleuen lam almanak Aceh that deuh roh Islam jih. Nan-nan buleuen almanak Aceh tabandeng ngon nan-nan buleuen almanak Islam nakeueh lagee nyo:

       Hasan Husen : Muharram
       Sapha : Safar
       Mo’lod : Rabi’ul Awal
       Ba’da Mo’lod : Rabi’ul Akhir
       Mo’lod Teungoh : Jumadil Awal
       Mo’lod Akhe : Jumadil Akhir
       Rajab : Rajab
       Sya’ban : Sya’ban
       Puasa : Ramadhan
       Uro Raya : Syawal
       Meu-apet : Dzulqa’idah
       Haji : Dzulhijjah


       Nan-nan buleuen lam almanak Aceh nyo mandum na sabab jih. Buleuen Muharram jeuet nan jih buleuen Hasan Husen nakeueh sabab peungaroh budaya Syi’ah lam adat Aceh. Dari kajian sejarah, ta tupeue Islam phon trok u Aceh bak masa Shahabat Nabi, dan mazhab nyan phon geupeuruno i Aceh nakeuh mazhab Syi’ah. Lam masalah nyo na dua kemungkinan dari pat trok Islam u Aceh, dan mandua na alasan logis jih. Kemungkinan phon nakeueh dari tanoh Persia, rot pengikot Sayyidina Hussein, cuco Nabi Muhammad SAW. Bukti nyo na bak model bate jeurat masa phon Islam nyan deueh gaya Persia. Kemungkinan keudua nakeueh dari Yaman (Hadramaut), rot pengikot Sayyidina Hussein chit, tapi nyan leubeh moderat daripada peungikot nyan na i tanoh Persia.

       I tanoh Yaman nyo, ajaran Syi’ah jih rab hana beda ngon Sunni, sabab mazhab Syiah di sinan nakeueh Ja’fariyah ngon Zaidiyah. Lam mazhab Syi’ah buleuen Muharram nakeueh buleuen nyan peunteng, sabab bak buleuen nyan, Sayyidina Hussen, cuco Nabi Muhammad SAW, jipoh mate le teuntra Yazid, raja bak masa nyan. Kejadian nyan pah bak uro ‘Asyura, 10 Muharram. Teuma Sayyidina Hasan jiracon le Yazid. Nyan keueh asai buleuen Muharram bak almanak Aceh jeuet keue buleuen Hasan Husen.

       Dua reutoh thon leubeh ajaran Syi’ah udep i Aceh. Lam masa nyan bacut-bacut trok gure-gure Islam nyan jak peuruno indatu ureung Aceh ngon ajaran Sunni mazhab Syafi’i. Bak watee nyan jalur trok Islam rot Yaman leubeh leumah, sabab di daerah Hadramaut nyan rame peungikot mazhab Syafi’i. Sementara meunyo lagee nyan umum jipeuruno bak ikula-ikula, bahwa Islam i Aceh nyan trok dari Gujarat, pasti mazhab nyan ta pakek le tanyo nakeueh mazhab Hanafi, kon mazhab Syafi’i.

       Buleuen Mo’lod mandum na peuet buleuen. Meuranggajan lam peuet buleuen nyan, adat Aceh geupeuget
khanduri Mo’lod, keue geurayakan uro lahe Nabi Muhammad SAW, buleuen Mo’lod (Rabu’ul Awal) bak 12 urobuleuen. Umumjih watee khanduri Mo’lod nyo geupeupah ngon watee lheueh keumeukoh di blang.

       Khanduri nyo saboh adat Aceh nyan jroh nibak Islam, saboh bentuk tapeumulia jame. Meunyo Nabi Muhammad Geujak bak rumoh sidro-dro sahabat, sahabat nyan geupeuteubit mandum makanan nyan na, geusi kameng, geupeuget ruti, geukhanduri keue Nabi ngon keue sahabat-sahabat laen nyan jak sajan. Meujan cit sahabat geujak undang Nabi u rumoh gobnyan jeuet geupeuget khanduri saboh kameng atawa dua. Le indatu ureung Aceh, sunnah khanduri nyo geupeulahe lam adat. Silaen khanduri Mo’lod, na cit khanduri buka puasa bak buleuen Puasa nyan geupeuadat, khanduri blang, khanduri gle, khanduri laot, dan macam-macam khanduri laen.

       Khanduri nyo gadoh makna meunyo lam niet meubut jih kon sabab Allah ngon Nabi, dan nyo nyan ka mulai ta kalon lam masyarakat Aceh. Ladom khanduri meuleu-leu reubah leumo, meuleu-leu beulangong kuah. Nyo ka hana Islami le. Peureulee ta puwo teuma bak asai mula, mandum niet sabab
Islam ngon Allah Ta’ala.

     Buleuen Puasa geukheuen meunan nakeueh sabab leubeh mangat kheuen jih bak lidah ureung Aceh dari kheuen Ramadhan. Umumjih dari buleuen Molod Akhe ka mulai geupeuget persiapan keue preh buleuen Puasa. Ureung meutani ka mulai geupula timon ngon kacang ijo keue cagruk buka puasa. Kayee dapu ka mulai geupesapat lam panteue. Kuru’an ka mulai geukalonkalon pat teupuduk jicong juree, bek hana meupat watee keumeung meudaruh tema. Bak buleuen Sya’ban, ureung-ureung inong geutop teupong bak jingki, mandum sago gampong teuleungo tak tuk jingki. Teuma ureung agam hana iem dro, geujak kalon leumo diglee toh nyan meuaso jeuet geusi keue makmeugang. Meunan cit meunasah geujak peugleh, geusai nibong keue aleue ngon papeuen keue binteh. Bah mangat bak seumayang teuraweh. Awak muda pih hana seungap, mulai jak kalon-kalon toh linto baro nyan hana tom leumah bak meunasah jeuet jijak pakat grop minsa.

       Geukheuen buleuen Meuapet nakeueh sabab buleuen nyan meuapet bak dua buleuen uro raya, buleuen Uro Raya Puasa (Idul Fitri bak Syawal) ngon buleuen Haji (Idul Adha bak 10 Zulhijjah). Lam adat Aceh dua uro raya nyo sama rayeuk.

       Teuma generasi lawet nyo ka leu nyan tuwo ngon almanak Aceh. Rot media nyo tanyo jeuet tamulai teuma tapuduk almanak Aceh nyan Islami, paleng han lam ate geutanyo.




(Sources: From various sources and personal conversation)
(Suhrawardi Ilyas, student at School of Physics, UNSW, Sydney,
Australia)

Read More
 

©2010O.o | by riezVE